Gerakan Mahasiswa, Bisa Apa?

iko

Khoirurizqo – Presma dan Mapres Unsoed 2008

Perubahan politik pasca reformasi membawa dampak serius bagi gerakan mahasiswa. Keran demokrasi yang sudah dibuka di era reformasi menyisakan ketidakmampuan mahasiswa menemukan arah gerakannya. Di satu sisi, status sebagai Agent of Change dirasa tidak lagi aktual, karena arus perubahan yang sudah berjalan dengan cepat dan hal ini lebih disebabkan karena adanya tuntutan global, bukan lagi dominasi tuntutan mahasiswa. Di sisi lain, peralihan status menjadi Director of Change pun masih menjadi gagasan utopis karena faktanya akses dan kemampuan mahasiswa masih sangat jauh secara fisik maupun mental untuk dapat mengatur dan mengarahkan proses transisi bangsa.

“Efforts and Courage” kata John F Kennedy, “Are not enough without purpose and direction”. Apa yang dikatakan Kennedy nampaknya lekat pada gerakan mahasiswa. Sudah lebih dari sewindu -sejak 1998- kita memasuki era transisi yang dimulai dari reformasi yang sedemikian menyejarah, yang kemudian menempatkan kaum muda -khususnya mahasiswa- menjadi ikon penting, paling tidak dalam meramaikan panggung sejarah Indonesia. Kaum muda tidak hanya berhasil menanamkan pengaruh sebagai pressure groups atas kekuatan politik formal, akan tetapi juga telah membuatnya menjadi kekuatan politik tersendiri yang punya peranan signifikan.

Walaupun begitu, dengan banyaknya “medali sosial” yang telah diraih oleh mahasiswa, hal ini tidak berarti bahwa mahasiswa telah berhasil. Agenda reformasi ternyata tidak (baca : belum) memberikan hasil signifikan bagi terbentuknya tatanan masyarakat yang mencerminkan keberhasilan gerakan mahasiswa dalam memperbaiki kondisi bangsa. Transisi bangsa yang dinilai banyak kalangan berjalan begitu cepat, meninggalkan mahasiswa di belakang dengan pertanyaan mendasar; apa peranan mahasiswa selanjutnya?

Transformasi Gerakan : Dari Student Movement menuju Social Movement

Salah satu poin penting yang patut dicatat dalam keberhasilan mahasiswa menggulingkan Soeharto adalah -mengutip Miftahudin- ketika mahasiswa pada waktu itu mampu membangun opini strategis dan kemudian menjadi milik masyarakat secara luas yang mendambakan terciptanya reformasi dan juga suksesi di Indonesia1. Mahasiswa mampu menggugah serta menyatukan perasaan ketertindasan juga kesengsaraan rakyat akibat krisis kala itu menjadi sebuah gerakan besar untuk menggulingkan titik sentral krisis; Orba dan sistem yang dibangunnya. Fenomenal memang, Bagaimana menjelaskan bahwa mereka yang dilarang berpolitik selama lebih dari dua dasawarsa akibat NKK/BKK mampu menumbangkan rezim besar dan mapan? Namun angkatan 1998 mampu membuka tabir itu dengan cara mereka sendiri; bergabung bersama rakyat.

Sebelas tahun berselang, saat ini gerakan mahasiswa seakan kembali layu, kalau tidak mau dikatakan hilang. Memang secara eksplisit, tidak ada lagi kebijakan NKK/BKK, tidak ada lagi pengintaian yang dilakukan oleh Menwa, dan kebijakan-kebijakan lain seperti tahun 1978. Tetapi yang kemudian terjadi adalah ternyata secara perlahan pemerintah -salah satunya melalui kebijakan komersialisasi pendidikan- menggiring mahasiswa untuk menjauhi dan bahkan menghilangkan dimensi sosial dirinya. Kampus telah dianalogikan dengan logika penjual dan pembeli; pendidikan hanya untuk mereka yang dapat membayar dengan harga yang ditetapkan pembeli. Akhirnya pola pikir pun berubah. Memikirkan rakyat? Jangan harap, kampus telah menjadi menara gading yang siap mencetak tenaga-tenaga handal untuk menjadi tenaga kerja siap pakai dengan orientasi utama adalah materi, tanpa dimensi sosial, apalagi bercita melakukan perbaikan sosial.

Ada apa dengan gerakan mahasiswa? Analisis menarik yang perlu dicermati diberikan oleh Iik Nurul Faik, salah seorang tokoh gerakan mahasiswa 1998. Menurutnya ada dua hal yang ternyata tidak mampu dijaga oleh gerakan mahasiswa pasca reformasi; Pertama, gerakan mahasiswa ternyata tidak mampu menjaga dirinya dari pengaruh kekuatan luar yang bisa mempengaruhi dan mengotori kemurnian gerakannya. Hal ini yang selalu sulit dijaga dan sering menimbulkan konflik internal di kalangan mahasiswa. Tambahnya lagi, gerakan mahasiswa saat ini sering dihinggapi “oportunis-oportunis” muda yang menjual idealisme perjuangannya, yang menjadikan gerakan mahasiswa sebagai batu loncatan. Kedua, saat ini ternyata akselserasi gerakan mahasiswa tidak berangkat dari aspirasi yang berkembang di masyarakat secara nyata, akan tetapi terjebak lagi hanyut pada pertarungan politik di tingkat elite tanpa memperhatikan “arus bawah”2. Sehingga untuk menciptakan gelombang Social Movement, dengan memposisikan diri sebagai “corong suara rakyat” menjadi jauh dari kenyataan.

Peran Politik Mahasiswa : Moral-Intelektual atau Aktif-Partisan?

Dalam logika perubahan dan rekayasa sosial memang perubahan paradigma menjadi prioritas pertama sekaligus indikator kesuksesan perubahan itu sendiri. Namun, ada hal lain yang tak kalah pentingnya dalam menentukan sukses tidaknya sebuah proses rekayasa dan perubahan sosial masyarakat yaitu sikap dan tindakan aktivis gerakan perubahan itu sendiri. Inilah yang dimaksudkan jembatan bagi idealisme dan realitas itu. Jembatan berupa perubahan paradigma berpikir, cara bersikap, dan pilihan tindakan yang efeknya adalah pergerakan masyarakat menuju titik ideal lewat proses-proses perubahan, atau yang biasa kita sebut proses transformasi. Dengan kata lain kita dapat mengatakan bahwa untuk melakukan transformasi dalam masyarakat maka diperlukan pula transformasi di dalam tubuh penggerak transformasi (:baca gerakan) itu sendiri.

Sejatinya memang harus dilakukan kajian yang cukup hati-hati untuk merumuskan konsepsi gerakan mahasiswa. Dari sekian banyak kelemahan gerakan mahasiswa saat ini, menurut penulis salah satunya adalah ketidakmampuan gerakan mahasiswa untuk beradaptasi dengan zaman yang semakin berubah. Dari yang terdekat saja, bahwa untuk menghadapi kampus dan mahasiswa yang semakin komersil ternyata kita terlalu gagap dan sulit beradaptasi, apalagi mengatasinya. Sistem pendidikan yang kemudian didesain sedemkian rupa sehingga membuat mahasiswa menjadi apolitis, kita hadapi dan coba selesaikan dengan cara-cara serta pendekatan yang konvensional, yang terkadang juga tidak konkrit untuk melesaikan masalah riil mereka.

Di luar kampus, ada gejala gerakan mahasiswa ternyata sudah tidak populis lagi. Mengutip Indra J Pilliang- salah satu penyebabnya bisa jadi adalah mahasiswa masih gemar mengatasnamakan rakyat tanpa melakukan pengkajian yang cukup cermat mengenai siapa rakyat dan apa keinginan mereka. Rakyat hari ini dipaksa untuk tetap tampil sebagai si bisu. Kalau dulu ia bisu karena takut, maka saat ini ia bisu karena begitu bisingnya suara yang mengatasnamakannya; pers, pegiat LSM, politisi, dan juga mahasiswa.

Pada akhirnya, bahwa sebagai salah satu kekuatan politik utama, maka mahasiswa harus mencitrakan diri sebagai kekuatan politik yang progresif, akan tetapi patut dicatat, seprogresif apapun, landasan moral dan etik tetap harus ditegakkan, juga tidak alpa memposisikan diri sebagai gerakan politik independen yang intelek. Juga tidak serta merta mendobrak semua aturan-aturan yang berlaku di dalam masyarakat yang dapat menjadikan gerakan mahasiswa menjadi gerakan yang destruktif. Tetap menjadi gerakan yang ideologis, namun juga menghargai perbedaan ideologi. Akhirnya, perlu dicatat bahwa secara universal politik praktis dengan politik moral tidak dibedakan, karena tak ada politik yang sepenuhnya tanpa moral dan nyatanya semua politik adalah praktis karena berkaitan dengan interaksi kekuasaan.

*Khairurrizqo. Penulis adalah Ketua BEM Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto. (Agus-Humas)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s