Komitmen Muslim Kepada Harokah Islamiyah. Sudahkah???

Seorang Muslim hendaknya memiliki komitmen terhadap harakah Islam, agar dirinya dapat memahami sampai dimana posisi dirinya dalam berislam dan mengikuti serta mengamalkan Islam yang dianutnya, dan dalam memahami hakikat ini akan kita bagi pada beberapa segmentasi berikut:

1. Saya Mesti Hidup Untuk Islam.

2. Saya Mesti Beriman Bahwa Beramal Untuk Islam Adalah Wajib.

3. Tanggungjawab, Ciri-ciri dan macam-macam Harakah Islamiah.

4. Memahami Cara-cara Beramal Untuk Islam.

5. Memahami Sejauh Manakah Makna Komitmen Dengan Harakah Islamiah.

6. Memahami Makna Pemutusan Amal Islami.

7. Memahami Syarat-syarat Baiah dan Keanggotaannya.

Mukadimah

Bahagian ini ingin membentangkan ciri-ciri penting yang harus ada pada mereka yang menganut Islam supaya komitmen diri mereka menjadi komitmen yang benar. Asas komitmen seseorang dengan harakah Islamiah ialah terciptanya ciri-ciri dan sifat-sifat bergabungnya seseorang dengan agama Islam itu sendiri. Inilah yang menjadikan Harakah Islamiah memberikan syaarat yang berat atas persiapan pribadi Muslim yang sebenarnya sebelum memulai usaha menjadi anggota Harakah Islamiah.

Langkah ini perlu karena komitmen diri seseorang dengan ajaran Islam adalah asas, manakala komitmen ke dalam harakah juga merupakan bahagian yang tidak boleh dipisahkan dari hakikat komitmen seseorang dengan agama ini. Hanya Allah yang memberi taufik dan kepada-Nya-lah kita memohon perlindungan.

1. Saya Mesti Hidup Untuk Islam

Pengakuan diri beragama Islam berarti mengikrarkan diri untuk hidup berdasarkan Islam, baik dari segi keyakinan, ibadah maupun akhlaq. Kalau seseorang mengaku sebagai seorang muslim artinya dirinya, rumah-tangganya dan keluarganya mesti menghayati Islam. Dan pengakuan itu memaksa dirinya wajib hidup untuk memperjuangkannya. Seluruh jiwa raga dan kemampuannya harus diarahkan untuk memperkuat agama Islam dan memperluas jangkauan dan pengaruhnya.

Dalam dunia ini ada tiga kategori manusia:

a. Golongan Yang Hidup Untuk Dunia Saja.

Golongan ini ialah golongan kebendaan (materialis), baik berdasarkan falsafah maupun golongan “Dahriyyin”. Pandangan Dahriyyin ini dijelaskan oleh Al-Quran:

وََقاُلوا إِ ْ ن هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ

“Dan tentulah mereka akan berkata pula: Tiadalah hidup yang lain selain dari hidup kita di dunia ini dan tiadalah kita akan dibangkitkan semula sesudah kita mati”. (Al-An’am: 29).

Allah berfirman:

وََقاُلوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِ ُ كنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا َلهُمْ بِ َ ذلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِ ْ ن هُمْ إِلَّا يَ ُ ظنُّو َ ن

“Dan mereka berkata: Tiadalah hidup yang lain selain daripada hidup kita di dunia ini. Kita mati dan kita hidup (silih berganti) dan tiadalah yang membinasakan kita melainkan karena waktu saja. Padahal mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu sedikitpun; mereka hanyalah menuruti sangkaan semata. (Al-Jatsiyah: 24).

Orang-orang komunis dan yang lainnya dari golongan sekuler atau penganut faham existensialism juga beranggapan demikian. Dalam satu ulasan yang ditulis oleh Joseph Stalin terhadap pendapat seorang ahli falsafah yang mengatakan: “Alam ini tidak dicipta oleh  Tuhan atau insan. Ia terjadi dengan sendirinya dan akan kekal sebagaimana adanya. Ia merupakan obor kehidupan yang terus menyala dan akan padam berdasarkan hukum-hakam yang tertentu”.

Lenin menyatakan: “Ini adalah satu analisis yang indah terhadap dialektik materialism”. Sebenarnya apabila manusia mengingkari adanya kehidupan setelah alam nyata, mengingkari adanya hari perhitungan terhadap segenap perilaku dan meyakini bahwa seluruh aktivitas dan usahanya akan tertumpu hanya untuk merangkul dunia yang fana ini. Ilmunya pun sekadar itu juga.

b. Golongan Yang Sesat Antara Dunia dan Akhirat.

Mereka ini adalah terdiri dari golongan minoritas, akidah mereka bersimpang siur dan usaha mereka di dunia ini adalah usaha yang sia-sia, tanpa mendapat berkah dan ridha Allah. Namun mereka menyangka telah berbuat baik. Orang ini walaupun percaya pada Allah dan hari Akhirat, namun akidah mereka tidak lebih dari gambaran palsu yang terpisah dan terputus dari realita kehidupan. Mereka ini pada hakikatnya termasuk dalam golongan yang menganut faham kebendaan sekalipun pada zahirnya mereka melakukan sebahagian dari ibadah yang diperintahkan. Tepatlah seperti yang dikatakan oleh penyair di dalam sepotong syairnya:

“Kita bersusah payah mendapatkan dunia, Dengan mengoyakkan agama, sehingga pada akhirnya rusaklah kedua-duanya, Baik dunia maupun agama”

Asy-Syahid Imam Hasan Al-Banna di dalam Risalahnya yang berjudul  “Fi Ayyi Syain Nad’un Nas (Ke mana kita ingin menyeru manusia)” menyatakan: “Sebenarnya Al-Quran telah menyampaikan maklumat tentang kehidupan dan tujuan-tujuan kehidupan manusia …” Ia menerangkan segolongan manusia yang hidup mereka adalah untuk makan minum dan menikmati kelazatan dunia saja. sebagaimana  Allah Berfirman

وَالَّذِينَ َ كَفرُوا يَتَمَتَّعُو َ ن وَيَأْ ُ كُلو َ ن َ كمَا تَأْكُلُ اْلَأنْعَامُ وَالنَّارُ مَْثوًى َلهُمْ

“Dan (sebaliknya) orang-orang yang kafir menikmati kesenangan di dunia serta mereka makan minum sebagaimana binatang-binatang ternak makan dan minum, sedang Nerakalah menjadi tempat tinggal mereka. (Muhammad: 12).

Al-Quran juga menerangkan adanya segolongan manusia yang tujuan hidup mereka adalah untuk menikmati perhiasan dan bersenang-senang dengan kemewahan, sebagaimana Allah Berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمَُقنْ َ طرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلَأنْعَامِ وَالْحَرْثِ َ ذلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dihiaskan (dan dijadikan indah) kepada manusia: Kesukaan kepada benda-benda yang diiringi nafsu; yaitu perempuan-perempuan dan anak-anak; harta benda yang banyak, dari emas dan perak; kuda peliharaan yang bertanda lagi terlatih dan binatang-binatang ternak serta kebun-kebun tanaman. Semuanya itu ialah kesenangan hidup di dunia dan (ingatlah), pada sisi Allah ada tempat kembali yang sebaik-baiknya (iaitu Syurga). (Ali Imran: 14).

Al-Quran juga menerangkan model golongan manusia yang hidup mereka di dunia adalah hanya mengadakan fitnah, menyuburkan kejahatan dan kerusakan, seperti Allah Berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ َقوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عََلى مَا فِي َقلْبِهِ وَهُوَ َأَلدُّ الْخِصَامِ . وَإِ َ ذا تَوَلَّى سَعَى فِي الَْأرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْ َ ث وَالنَّسْ َ ل وَاللَّهُ َلا يُحِبُّ الْفَسَادَ

“Dan di antara manusia ada orang yang tutur katanya indah mengenai hal kehidupan dunia, menyebabkan engkau tertarik hati (mendengarnya) dan dia (bersumpah dengan mengatakan Bahwa) Allah menjadi saksi atas apa yang ada dalam hatinya, padahal dia adalah orang yang amat keras permusuhannya (kepadamu). Kemudian apabila dia pergi (dengan mendapat hajatnya), berusahalah dia di bumi, untuk melakukan bencana padanya dan membinasakan tanaman-tanaman dan keturunan (binatang ternak dan manusia; sedang Allah tidak suka kepada bencana kerosakan. (Al-Baqarah:204 – 205).

Demikianlah tujuan-tujuan hidup manusia di dunia. Allah SWT telah membersihkan orang-orang mukmin dari tujuan-tujuan yang salah dengan  memberikan tanggungjawab dan kewajiban yang tinggi lagi mulia. Tanggungjawab tersebut adalah menunjukkan kebenaran Islam kepada manusia. Mengajak manusia seluruhnya kepada kebajikan dan menyinarkan seluruh alam ini dengan cahaya Islam.

c. Golongan Yang Menganggap Dunia ini Adalah Ladang Tanaman Untuk Di Akhirat.

Mereka inilah golongan yang benar-benar beriman, mereka mengetahui hakikat hidup ini. Mereka menyadari nilai hidup di dunia ini dibandingkan dengan akhirat karena Allah Berfirman:

وَمَا الْحَيَاُة الدُّنْيَا إِلَّا َلعِبٌ وََلهْوٌ وََللدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَُّقو َ ن َأَفَلا تَعْقُِلو َ ن

“Dan tidak (dinamakan) kehidupan dunia melainkan permainan yang sia-sia dan hiburan yang melalaikan dan demi sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Oleh itu, tidakkah kamu mahu berfikir? (Al-An’am:32).

Hikmah dari memandang rendahnya nilai dunia jika dibandingkan dengan akhirat, mampu melihat bahwa  kehidupan dunia tidaklah sampai menghalangi dan menyibukkan mereka dari melaksanakan tujuan mereka diciptakan oleh Allah.

وَمَا خََلقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan (ingatlah) Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mereka menyembah dan beribadah kepadaKu. (Adz- Dzariyaat:56).

Orang-orang yang benar menggabungkan dirinya dengan Islam menganggap dunia ini sebagai medan dan ladang untuk dapat berbakti dan mentaati Allah serta memperoleh keridhaan-Nya. Seluruh hidup mereka baik ilmu pengetahuan, perniagaan, harta kekayaan, rumah tangga, dan waktu serta pemikiran, semuanya dicurahkan untuk tujuan mentaati Allah. Sebaliknya golongan kebendaan menggunakan segala karunia tersebut demi untuk memuaskan hawa nafsu dan keinginan syahwat. Kenyataan ini telah dibuktikan dengan sebahagian besar kemajuan zaman moden ini dan kebanyakan hasil daya fikir manusia hanya bertujuan untuk menyuguhkan kepada manusia akan kelazatan dan kepuasan jasmaninya bukan bertujuan untuk membangunkan alam semesta ini dengan nilai-nilai kebaikan, kedamaian dan ketenangan. Kemajuan alat-alat transportasi baru seperti kereta, pesawat, kapal taut, mesin uap, peti es, alat-alat dandan, perabot rumah tangga, pakaian, alat-alat hiburan dan ribuan ciptaan yang diolah oleh perusahaan yang modern dan canggih pada hari ini, semuanya bertujuan memberikan kesenangan, kelezatan hidup manusia. Dalam konteks ini walaupun Islam sama sekali tidak melarang mengkaji (menyelidiki), mencipta dan menghasilkan sesuatu, namun ia haruslah dilakukan dengan syarat:

1. Dengan kadar yang tidak membawa manusia kepada kemudaratan atau bahaya.

2. Dalam bentuk yang bisa mendatangkan kebaikan dan kebajikan dalam masyarakat.

Artinya, kerja-kerja tersebut hendaklah diperhatikan dari segi penyesuaiannya dengan syarak dan akhlaq. Dalam hubungan ini Imam Hasan Al-Banna di dalam risalah, “Ke Mana Kita Menyeru Manusia” mengatakan: “Demi Tuhanmu, wahai saudara yang dimuliakan; adakah umat Islam memahami pengertian ini (dari Kitab Allah) yang menyebabkan jiwa mereka akan menjadi tinggi, semangat mereka akan meningkat bahkan akan bebas dari belenggu kebendaan. Mereka akan terhindar dari godaan syahwat dan keinginan nafsu serta menjauhi perkara-perkara yang sia-sia dan tujuan-tujuan yang penuh kehinaan.

Dengan pemahaman ini mereka dapat meluruskan tujuan dan haluan mereka kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi, ikhlas mempertahankan kalimah Allah, berjihad pada jalan-Nya, menyebarkan agama-Nya dan mempertahankan syariat-Nya atau sebaliknya mereka ditawan oleh syahwat dan menjadi hamba kepada kerakusan nafsu serakah. Seluruh impian mereka hanyalah untuk mengisi nafsu perut mereka dengan makanan yang lezat, kenderaan yang mewah, tidur yang nyenyak dan titel yang kosong”.

Seorang penyair menyatakan:

Mereka bersenang-senang dengan angan-angan dan khayalan, Sedangkan segala pemberian adalah ujian

Mereka mengira telah mengarungi lautan dengan, Sesungguhnya mereka belumpun bertemu ujian.

Benarlah Rasulullah saw bersabda yang menyebutkan:

“Celakalah (orang yang hidupnya menjadi) abdi (hamba) dinar, celakalah (orang yang hidupnya menjadi) hamba abdi diram. Celakalah (orang yang) menjadi hamba abdi kepada pakaian”. (Imam Bukhari).

Lalu Bagaimanakah  Cara seorang muslim Hidup Untuk Islam: Supaya hidup ini terarah menurut ketentuan Islam maka beberapa masalah pokok haruslah difahami serta dihayati sebagai satu kewajiban. Seperti:

i. Mengenai Tujuan Hidup.

Allah Berfirman:

وَمَا خََلقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan (ingatlah) Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mereka menyembah dan beribadah kepadaKu. (Adz- Dzariyaat: 56).

Allah Berfirman:

وَهُوَ الَّذِي خََلقَ السَّمَوَاتِ وَالَْأرْضَ فِي سِتَّةِ َأيَّامٍ وَكَا َ ن عَرْشُهُ عََلى الْمَاءِ لِيَبْلُوَكُمْ َأيُّ ُ كمْ َأحْسَنُ عَمًَلا

“Dan Dialah yang menjadikan langit dan bumi dalam enam masa, sedang ArasyNya berada di atas air (Dia menjadikan semuanya itu untuk menguji kamu: Siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya”. (Hud:7).

ii. Memahami Nilai Dunia Ini Dibandingkan Dengan Akhirat.

Allah Berfirman:

َأرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ َفمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

“Adakah kamu lebih suka dengan kehidupan dunia daripada akhirat? (Kesukaan kamu itu salah) karena kesenangan hidup di dunia ini hanya sedikit saja dibanding dengan (kesenangan hidup) di akhirat kelak”. (At- Taubah:38).

Allah berfirman:

َ ذلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Semuanya itu ialah kesenangan hidup di dunia dan (ingatlah), pada sisi Allah ada tempat kembali yang sebaik-baiknya (yaitu Syurga). (Ali Imran:14).

Diriwayatkan, pada suatu ketika Rasulullah saw menghadap ke suatu tempat membuang sampah (mazbalah), lalu beliau memanggil para sahabat beliau sambil bersabda: “Ayolah, kejarlah dunia”; kemudian beliau mengambil sobekan kain yang telah usang dan tulang-tulang yang sudah rapuh sambil berkata: “Inilah dunia”.

Menurut riwayat yang lain, pada suatu hari Rasulullah saw melihat kepada bangkai anak kambing yang dibuang oleh pemiliknya lalu beliau berpaling kepada para sahabatnya dan bersabda: “Adakah kamu melihat betapa hinanya bangkai kambing itu di sisi pemiliknya, demi Allah dunia ini lebih hina di sisi Allah melebihi kehinaan kambing tersebut di sisi pemiliknya. Kalaulah nilai dunia ini menyamai nilai sebelah sayap seekor nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi seteguk airpun untuk minuman orang kafir”.

Beliau juga bersabda: “Hari kiamat semakin dekat sedangkan manusia semakin tamak dan rakus kepada dunia dan mereka juga semakin jauh dengan Allah”. (Tirmizi, Ibn Majah, dan Hakim)

Beliau juga bersabda:

“Dunia ini adalah penjara untuk orang mukmin dan surga bagi orang kafir”. (Muslim)

iii. Memahami Bahwa Maut Pasti Tiba.

Allah Berfirman:

كُلُّ مَنْ عََليْهَا فَانٍ. وَيَبَْقى وَجْهُ رَبِّكَ ُ ذو الْجَلَالِ وَاْلإِ ْ كرَامِ.

“Segala yang ada di muka bumi itu akan binasa. Dan akan kekallah Zat Tuhanmu yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan”. (Ar- Rahmaan:26 – 27).

كُلُّ نَفْسٍ ذَائَِقةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْ َ ن ُأجُورَ ُ كمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ َفمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِ َ ل الْجَنََّة َفَقدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاُة الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati dan Bahwasanya pada hari kiamat sajalah akan disempurnakan balasan kamu. Maka barangsiapa yang dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke Surga maka sesungguhnya dia telah berjaya dan (ingatlah Bahwa) kehidupan di dunia ini (meliputi segala kemewahannya dan pangkat kebesarannya) tidak lain hanyalah kesenangan bagi orang-orang yang terpedaya”. (Ali Imran:185).

Diriwayatkan Bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Senantiasalah mengingati pemusnah kelazatan dan pemisah golongan-golongan (yaitu kematian)”. ( Ibnu Hibban).

Abu Zar Al-Ghiffari r.a berkata: “Saya berkata kepada Rasulullah saw: Apakah kandungan Suhuf Nabi Musa?” Beliau menjawab: “Keseluruhannya adalah pengajaran”. Aku merasa heran terhadap orang yang yakin kepada kematian tetapi ia masih terus bergembira, Aku heran kepada orang yang yakin tentang neraka tetapi ia masih ketawa, Aku heran terhadap orang yang meyakini qadar ketentuan Allah tetapi masih kecewa, Aku heran terhadap orang yang melihat dunia yang membolak-balik penghuninya tetapi ia masih merasa aman terhadap dunia, Aku juga merasa heran terhadap orang yang meyakini adanya hisab di kemudian hari tetapi masih tetap tidak beramal (sebagai bekal)”.

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a, Bahwa beliau keluar bersama-sama Rasulullah saw mengiringi jenazah. Rasulullah saw bersabda sambil duduk menghadap ke arah sebuah kubur: “Tiap hari kubur ini menyeru dengan nyaringnya: Hai anak Adam lupakah engkau kepada aku. Tidakkah engkau ketahui Bahwa aku ini tempat untuk sendirian, tempat kesunyian, tempat cacing dan tempat yang sempit kecuali yang Allah lapangkan baginya”. Kemudian beliau bersabda: “Kubur ini adalah salah satu taman dari taman-taman surga atau (sebaliknya) salah satu lubang dari lubang-lubang neraka”. (Tabrani).

iv. Mengetahui Hakikat Islam.

Yaitu dengan mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu agama, dasar-dasar, hukum-hakam, yang halal dan yang haram.

Allah Berfirman SWT:

وَُقل رَبِّ زِدْنِي عِْلمًا

“Dan berdoalah dengan berkata: Wahai Tuhanku, tambahkanlah ilmuku“. (Thaha:114).

Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya ilmu itu hanya diperoleh dengan belajar dan kefahaman hanya didapati dengan mendalaminya, barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan pada dirinya, maka akan diberikan kefahaman yang mendalam di dalam urusan agama”. (Tabrani).

Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya para Nabi tidaklah meninggalkan dinar dan dirham. Hanya mereka yang meninggalkan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya ia telah mengambil bahagian yang lumayan”. (Abu Daud dan Tirmizi).

Yaitu dengan meneliti ciri-ciri pemikiran jahiliah, aliran-aliran dan perancangannya. Di samping menyingkap akibat-akibat dan keburukannya. Dengan memahami hakikat ini kita tidak terperangkap ke dalam jaring-jaringnya selaras dengan sabda Rasulullah saw:

“Barangsiapa yang mempelajari bahasa suatu kaum ia terselamat dari rencana jahat mereka”.

Albani mengatakan: “Saya tidak menemui hadits ini dengan lafaz tersebut dan tidak ada seorang pun yang menulis mengenai hadits yang sering disebutkan oleh orang awam yang menyebutnya. Seolah-olah hadits ini di sebarkan baru belakangan ini. Tetapi hadits ini mempunyai makna yang sama dengan hadits yang di riwayatkan oleh At-Tirmizi(bukan berkata hadits ini Hassan Sahih), Hakim, Abu Daud dan Ahmad.

Jika seseorang menghayati Islam dan hidup untuk memperjuangkan Islam maka tentulah bentuk serta corak hidupnya berbeda dengan manusia yang lain. Antara bentuk dan corak tersebut ialah:

i. Benar-benar Terikat dan Menurut Ajaran Islam.

Iman itu bukanlah hanya dengan angan-angan saja, tetapi ia adalah suatu yang tertanam di dalam hati dan dibuktikan oleh perbuatan. Ketika Allah Berfirman selalu \mengaitkan antara iman dan amal.

Di antaranya:

إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

“Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih. (Al-Asr:3).

َأتَأْمُرُون النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْن َأنْفُسَكُمْ وََأنْتُمْ تَتُْلون الْكِتَابَ َأَفَلا تَعْقُِلون

“Patutkah kamu menyuruh manusia supaya berbuat kebaikan sedang kamu lupa akan diri kamu sendiri; padahal kamu semua membaca Kitab Allah, tidakkah kamu berakal? (Al-Baqarah:44).

َ كبُرَ مَ ْ قتًا عِنْدَ اللَّهِ َأن تَُقوُلوا مَا َلا تَفْعَُلون

“Amat besar kebenciannya di sisi Allah kamu memperkatakan sesuatu yang kamu tidak melakukannya”. (As-Saff:3).

Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali berkata:

“Dua lelaki telah memberi musibah atas diriku, pertama orang alim yang melanggar larangan agama dan kedua orang jahil yang beribadah. Si jahil memperdayakan orang ramai dengan ibadahnya manakala si alim pula memperdaya orang ramai dengan pelanggaran terhadap agama”.

Rasulullah saw berwasiat kepada seluruh umat:

“Jadilah kamu orang-orang yang memelihara ilmu dan janganlah kamu menjadi tukang riwayat”. (Abu Nu’aim)

ii. Mengutamakan Kepentingan Islam.

Berhubung dengan tuntutan ini Rasulullah saw bersabda:

“Berputarlah kamu bersama-sama dengan Kitab Allah (untuk kepentingan Islam) di mana kepentingan berputar”.

Beliau juga bersabda:

“Sesiapa yang pada pagi harinya tidak mengambil berat perihal orang Islam maka dia bukanlah dari golongan mereka”.

Rasulullah saw menjelaskan perkara ini secara langsung:

“Engkau memegang pos penting dari pos-pos Islam, maka (awas) jangan sampai musuh dapat terlepas dari pengawasan kamu”.

Di dalam perang Uhud Saad bin Ar-Rabie’ ditemui pada saat-saat menghampiri maut sedang di tubuhnya terdapat tujuh puluh liang luka karena tekaman tombak, tusukan pedang dan panah, lalu ia menoleh kepada Zaid bin Tsabit lalu berkata: “Katakanlah (sampaikanlah berita ini) kepada Rasulullah saw, sesungguhnya saya telah mencium bau surga dan beritahulah kaumku orang-orang Ansar, tidak ada alasan mereka di sisi Allah sekiranya mereka benar-benar ikhlas kepada Rasulullah saw selama mata kamu masih belum terpejam, kemudian di saat itu juga dia menghembuskan nafasnya yang terakhir”.

iii. Merasa Mulia Dengan Kebenaran Islam dan Yakin Kepada Allah.

Ini adalah di antara sifat-sifat orang yang beriman.

Allah Berfirman SWT:

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ

“Padahal bagi Allah jualah kemuliaan dan kekuatan itu dan bagi RasulNya serta bagi orang-orang yang beriman. (Al-Munafiqun: 8).

Allah juga berfirman:

وََلا تَهِنُوا وََلا تَحْزَنُوا وََأنْتُمُ الَْأعَْلوْن إِن ُ كنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan janganlah kamu merasa lemah (dalam perjuangan mempertahan dan menegakkan Islam) dan janganlah kamu berdukacita (terhadap apa yang akan menimpa kamu), padahal kamulah orang-orang yang tertinggi (mengatasi musuh dengan mencapai kemenangan) jika kamu orang-orang yang (sungguh-sungguh) beriman”. (Ali Imran:139).

Diriwayatkan pula Bahwa ketika orang-orang Islam yang berhijrah mencari perlindungan untukmempertahankan agama mereka di Habsyah, lalu mereka masuk menghadap raja Najasyi, lalu pasukan dan pendeta yang ada di situ meminta mereka sujud untuk menghormati raja. Tetapi Jaafar bin Abi Talib yang menjadi ketua rombongan menjawab: “Kami adalah satu kaum yang tidak sujud kecuali kepada Allah”.

Malah di dalam sejarah Islam kita menemui ratusan contoh yang memperlihatkan kemuliaan, ketegasan pendirian dan keberanian yang direkam oleh generasi pertama umat Islam seperti Khubaib bin Adi, Zaid bin Ad-Dathanah, Rub’ie bin Amir, Mus’ab bin Umair, Said bin Jubair, Said bin Al-Musayyab dan lain-lain yang dapat dipelajari tentang perjalanan hidup mereka untuk dijadikan contoh teladan.

iv. Beriltizam Dengan Kerja-kerja Islam dan Kerjasama Dengan Aktivitas Islam lainnya.

Apabila seseorang mengaku sebagai seorang muslim, maka ia wajib bekerja untuk Islam. Patut bekerja dalam satu jamaah, bekerjasama dengan para pendakwah lain yang menyeru kepada Allah dan menyuruh kepada kebaikan serta mencegah keburukan. Sebagaimana dia harus bekerja keras untuk mewujudkan dirinya sebagai individu muslim, rumah tangga muslim, masyarakat muslim dan negara yang benar-benar Islam.

Allah berfirman:

سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ

“Kami akan menguatkan tenaga dan daya usahamu dengan saudaramu (Harun)”. (Al-Qashash:35).

Allah juga berfirman:

“Dan hendaklah kamu tolong menolong untuk membuat kebajikan dan bertakwa dan janganlah kamu tolong menolong pada melakukan dosa (maksiat) dan permusuhan”. (Al-Maidah:2).

Rasulullah saw bersabda:

“Seseorang muslim dengan seorang muslim yang lain laksana satu bangunan yang tersusun, saling kuat-menguatkan di antara satu sama lain”. (Bukhari dan Muslim)

Beliau juga bersabda:

“Tangan (atau pertolongan) Allah itu bersama jemaah. Sesungguhnya serigala itu memakan kambing yang terpisah (dari kumpulannya)”. (Abu Daud)

Nabi juga bersabda:

“Kamu wajib bersama jemaah muslimin dan Imam (pemimpin) mereka”. (Bukhari dan Muslim)

Sabda beliau yang lain:

“Jemaah itu berkah”. “Jemaah itu rahmat dan perpecahan itu azab”. (Hadits riwayat Abdullah Ibn Ahmad Ibn Hanbal dalam “Zawaid al-Musnad.” Al-Hafiz as-Sakhawi berkata: Hadits ini diriwayatkan oleh ad-Dailami juga dan kedua-dua sanadnya lemah tetapi ia mempunyai banyak syawahid). (Agus S – Humas)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s