Biar di Surga Tidak Sendirian

By: Een Suryani (Maret 2007 TEKAD I UKI FISIP UNSOED)

“Kader produktif adalah kader yang terus berputar dan mengenal dakwah. Ia hadir mencukupkan kekurangan yang ada. Bukanlah prestasi dengan sekedar menghujat ketidakpuasan, melainkan ia menyampaikan pikirannya, bergerak mewujudkannya, mengisi ruang kosong dari bangunan peradaban yang besar ini. Sesedikit mungkin menimbulkan problem baru, sebesar mungkin menghasilkan karya”.

Siapa yang tidak mau masuk surga?? Keindahannya tidak bisa dituliskan dengan kata-kata, tidak bisa dilukiskan di atas kanvas, tidak bisa diceritakan lewat lisan bahkan pujangga hebat sekalipun tidak akan mampu menuangkannya dalam bait-bait puisi.

Surganya juga luas….. Berkali lipat bumi dan isinya. Semuanya akan mudah didapatkan. Apa aja. Mau buah-buahan?? Tinggal ambil. Mau susu, kopi, madu, minuman beraneka rasa? Gampang. Tinggal tuang aja. Makanan enak seperti roti, daging, ayam, lalapan, sambal atau pizza??

Ada yang kurang? Coba di sana ngumpul sama ibu, ayah, adik, kakak, temen kostan, anak-anak T-Kad I, UKI, kelas, wah.. rame kan jadinya?? Bisa bernostalgia di surga. Berbagi senyum, saling bertukar kebahagiaan. Klop rasanya??

Tetapi apa yang terjadi kalau cuma kita yang ke sana? Surga luas jadi sepi. Gak ada nostalgia. Gak ada gelak tawa. Orang-orang tercinta jauh. Bahkan sangat menderita. Gak bisa berbagi kebahagiaan. Yang ada sunyi. Bahkan hati sakit terasa diiris-iris menyaksikan orang-orang tercinta jauh.. sangat jauh.. bahkan sedang menahan penderitaannya.

Masih mau di surga sendirian??? Biar bareng-bareng ngumpul di sana, ajak dong yang lain. Kalau kita —insyAllah— soleh, tularkan ke yang lain. Atau kata Ustadz Anis Matta, biar soleh pribadi, soleh sosial. Lebih lanjut dipesankan Ustadz Mustafa Mansyhur, segerakan memperbaiki diri dan seru orang lain.

Biar di surga tidak sendirian, ajak-ajak yang lain…

Mengajak orang lain kepada kebenaran, kepada yang haq, kepada kalimat Allah, agar Islam tegak di muka bumi dapat dirangkum dengan satu kata: DAKWAH. Dakwah secara bahasa adalah annida yang artinya memanggil, ad du’a ila syai’i (menyeru dan mendorong pada sesuatu) dan ad da’wah ila qadhiyah (menegaskannya terhadap yang haq atau pun yang bathil).

Dalam kamus Bahasa Arab, dikatakan bahwa du’aat adalah orang yang mengajak manusia untuk berbai’at pada petunjuk atau kesesatan. Bentuk tunggalnya adalah da’i atau da’iyah yang artinya orang yang mengajak manusia kepada agama atau kepada fitrah. Hal ini dikuatkan sabda Nabi SAW: “Barang siapa mengajak kepada petunjuk, ia berhak mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala (orang yang melakukan) sedikitpun dan barang siapa mengajak kepada kesesatan ia berhak mendapat dosanya seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun. (HR Muslim)

Ibnu Qayyim mengatakan kata du’aat adalah jamak dari dai seperti kata qadhi dan qudhaat. Disandarkannya kata itu kepada Allah (da’wah ilallah) adalah spesifikasinya yang dilakukan oleh para da’I, yaitu menyeru kepada agama Allah. Definisi dakwah terdapat dalam Surah An Nahl: 125, “Serulah manusia ke jalan Tuhanmu (wahai Muhammad) dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui tentang siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Seorang muslim dan kewajiban berdakwah

Dakwah merupakan kewajiban syar’i berdasarkan dalil dalam Surat Ali Imran: 104 “…dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang yang beruntung”. Ayat tersebut menunjukkan bahwa dakwah itu wajib, karena terdapat lam amar di dalam kalimat wal takun. Sedangkan, kalimat minkum menunjukkan fardhu kifayah, maka seluruh umat Islam diperintahkan agar sebagian mereka melaksanakan kewajiban ini.

Sesungguhnya setiap muslim membawa tugas untuk menyampaikan Islam kepada seluruh manusia,. Tanggung jawab dakwah adalah tanggung jawab semua muslim. Rasulullah SAW bersabda “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”. Banyak dalil Al Qur’an dan Sunnah menunjukkan kewajiban berdakwah seperti dalam Ali Imran: 104, An Nahl: 125, Al Qashas: 87 dan Yusuf : 108.

Keutamaan berdakwah

Orang yang berdakwah akan memiliki banyak keutamaan, di antaranya adalah:

  1. a’zham ni’millah (memperoleh nikmat Allah yang terbesar);

  2. ahsan al a-‘maal (sebaik-baik amal);

  3. muhimah ar rusuul (tugas pokok para rasul); dan

  4. al hayaah ar rabbaaniyah (mengantarkan ke dalam kehidupan yang diridhai Allah).

Selain itu, berkah bagi yang berdakwah adalah:

  1. ridhaallah (ridha Allah);

  2. mahabbatullah (cinta Allah);

  3. rahmatullah (rahmat Allah);

  4. al ajr al mustamirrah (pahala yang tidak pernah putus); dan

  5. al ajr al mutdhaauf (pahala yang dilipatgandakan).

Beberapa dalil yang berkaitan dengan keutamaan berdakwah:

  1. QS 3: 104, QS 16: 97, dan QS Muhammad: 7;

  2. Hadts Rasul Saw, “Barang siapa di antaramu yang melihat kemungkaran hendaklah ia merubah dengan tangannya. Jika tidak sanggup, maka dengan lidahnya. Jika ia tidak sanggup, maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemahnya iman (HR Muslim). Dalam riwayat lain dikatakan, “Selain ketiga perbuatan itu, berarti tiada keimanan meskipun hanya sebesar biji sawi”.

  3. Sesungguhnya Allah, malaikatnya serta penduduk langit dan bumi hingga semut yang ada di dalam lubangnya dan ikan-ikan yang ada di laut (semuanya) bersalawat atas orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia (HR Tirmidzi).

Tahapan berdakwah

Kegiatan berdakwah pada dasarnya adalah merubah jahiliyah kepada makrifah (pengetahuan), merubah pengetahuan menjadi fikrah (pemikiran), merubah pemikiran menjadi aktivitas (amal), merubah amal menjadi hasil, dan merubah hasil menjadi tujuan, yaitu ridha Allah.

Tahapan (marhalah) dakwah terdiri dari tabligh, ta’lim, takwin, tanzhim, dan tanfidz. Pada setiap tahapan, terdapat aktivitas dan tujuan yang berbeda. Pada tahapan tabligh (penyampaian umum) dan ta’lim (pengajaran), sasarannya adalah merubah kebodohan menuju makrifah (pengenalan). Tujuan tahapan ini adalah menyampaikan dan memperbaiki ilmu. Taahapan takwin, pembentukan sasarannya adalah merubah makrifah kepada pemikiran dan amal. Sedangkan pada tahapan tandhim (pengorganisasian), dakwah dikelola secara bersama-sama untuk menata langkah dan menyatukan barisan. Pada tahap tanfidz (pelaksanaaan), merubah hasil kepada tujuan (mardhatillah). Sedangkan, tujuannya adalah mobilisasi amal.

Jadi, dakwah dimulai dengan memperkenalkan, menggambarkan ide (fikrah) dan menyampaikannya kepada khalayak ramai serta setiap lapisan masyarakat. Hasil dari dakwah ini ditingkatkan kepada bentuk pembinaan dengan cara memilih pendukung, menyiapkan anggota dan pendukung dakwah serta mendidiknya. Mereka yang telah terbina tersebut digerakkan untuk mencapaui tujuan.

Dakwah islamiyah juga mempunyai tahapan ruang lingkup, yaitu mulai merubah individu, kemudian pembentukan keluarga muslim, masyarakat, negara hingga yang internasional (khilafah islamiyah) sampai dengan Islam menjadi ustazdiatul alam (guru peradaban).

Nah, sudah paham kan kenapa harus ngajak orang lain kepada kebaikan?? Jangan lupa untuk terus memperbaiki diri dan senantiasa menebarkan kebaikan itu kepada orang lain. Takut disebut da’i? Ada kekhawatirn belum siap jadi da’i? Ingat kata-kata seorang raja kepada anaknya yang bernama Amalia dalam Film Princess Diary “Keberanian itu bukanlah tanpa rasa takut, tetapi ia adalah kemampuan untuk memutuskan ada yang lebih penting dari sebuah rasa takut!!”

Wallahu a’lam

“Ingat selalu ketika berdakwah: Melayani sebelum mendakwahi, memberi teladan sebelum mengajak, menggembirakan bukan menakuti, mempermudah bukan mempersulit, serta memberi solusi bukan mnghakimi.”

By: Humas: Agus

One response to “Biar di Surga Tidak Sendirian

  1. Assalamu’alaikum..
    Afwan banget, baru login lagi nie setelah Idul Fitri. Semoga kami bisa kembali online rutin lagi. Do’ain ya…
    Syukron jazakumullah, Terimakasih banyak

    Ttd,

    Admin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s